Senin, 27 Juni 2016

Masjid Dalam Pendidikan Karakter Anak



Oleh: Rabian Syahbana, S. Pd.I
Pemerhati Sosial dan Agama
            Rakyat Indonesia adalah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia. Tidak terlalu sulit untuk menemukan bangunan Masjid di setiap kampung yang ada di Indonesia. Bahkan, dalam satu kampung itu terdapat dua sampai empat bangunan masjid disana. Saat ini masyarakat muslim berlomba-lomba meronovasi dan memperbagus masjid yang berada di daerah mereka.
            Tapi, megahnya masjid-masjid saat ini tidak seimbang dengan banyaknya jemaah yang datang untuk shalat lima waktu. Masjid sangatlah sepi dengan jemaah, baik itu di waktu shalat dzuhur, ashar, magrib, isya, bahkan saat subuh ada masjid yang hanya ada imam yang merangkap makmum.

            Hal tersebut sangat disayangkan, seakan-akan masjid kehilangan para kader penerusnya. Pengisi barisan masjid lebih banyak terisi oleh para orangtua. Salah satu penyebab kenapa masjid sepi dikarenakan para anak-anak menganggap bahwa masjid merupakan tempat yang menakutkan.
            Sudah bukan rahasia lagi, kadangkala kehadiran anak-anak tidak begitu diharapkan di dalam masjid. Anak-anak dianggap sebagai pengganggu kekhusuyukan dalam beribadah. Bahkan ditemukan ada masjid yang teang-terangan melarang anak-anak masuk kedalam masjid melalui tulisan.
            Hal tersebut diperparah dengan adanya orang dewasa yang tidak segan-segan menghardik, mengancam, mencubit anak-anak yang bermain. Dikarenakan perlakuan tersebutlah masjid menjadi tempat yang menyeramkan bagi para anak-anak. Anak-anakpun menjadi malas datang ke masjid karena menganggap ‘tidak menarik’.
            Anak-anak memang pada hakekatnya masih ber-mindset untuk bermain-main, jadi wajar jika bertemu dengan temannya, mereka akan main atau ribut. Dikarenakan masjid menjadi tempat yang membuat mereka tidak bisa bermain antar sesama, akhirnya anak-anak tersebut mencari alternatif hiburan.
            Sehingga, kita bisa melihat dengan jelas efeknya sekarang, lebih banyak anak-anak bermain playstation, game online, bahkan lebih parahnya ke tempat-tempat yang untuk usia mereka tak pantas untuk masuk kesana. Anak-anak suka hiburan, jika di masjid kedatangan mereka disambut tidak ramah, sangat berbeda dengan penjaga playstation dan game online yang sangat menyukai dan ramah terhadap mereka.
            Kita lihat saja dari efek sepinya masjid, banyak anak-anak yang salah pergaulan, mereka bermabuk-mabukan, menonton video porno, dan perbuatan tercela lainnya. Sehingga tidak sedikit saat kasus kriminal, justru pelakunya adalah anak-anak dibawah umur. Jika kita melihat agama mereka tentu sangat dipertanyakan, apakah Islam gagal mendidik generasi mudanya?
            Jika masjid masih belum menjadi tempat yang mengasyikkan, para pengurus masjidpun kehilangan para kader remaja masjid, banyak remaja yang menolak ambil bagian karena dulu sewaktu masih kecil selalu dimusuhi saat datang ke masjid. Para anak-anak pun sekarang lebih cepat terkontaminasi oleh prilaku-prilaku tidak terpuji yang datang dari luar. Yang memprihatinkan, banyak anak-anak yang terjerumus ke dalam prilaku tersebut.
            Padahal Allah yang mempunyai sifat Maha Rahman tapi dikarenakan sebagian pengurus masjid yang galak dan suka membentak anak-anak, maka sifat tersebut seakan-anak menghilang. Anak-anak jadi terdoktrin bahwa Allah Maha Keras SiksaanNya dibandingkan Maha RahimNya. Masjid seperti tidak bisa dimasuki oleh tubuh mereka yang masih kecil karena kalau bermain sedikit saja maka akan dimarahi dan dihukum.
            Di dalam Islam, orang yang pertama kali datang berhak mengambil posisi shaf terdepan, dikarenakan shaf tersebut merupakan yang paling besar pahalanya. Tetapi hal tersebut tidak berlaku kepada anak-anak, walau mereka datang lebih awal bahkan sebelum azan berkumandang posisi mereka tetaplah di shaf paling belakang. Padahal perasaan tidak pernah ada hak berada di shaf depan berdasarkan usia.
            Anak-anak sebenarnya bisa dirayu untuk tidak terlalu banyak bermain-main di dalam masjid. Misalnya saja saat shalat Jum’at, khatib harus berusaha menyapa anak-anak. Jangan hanya fokus terhadap jemaah dewasa dan menganggap anak-anak warga kelas dua. Khatib diharapkan dapat memposisikan dirinya sebagai penegur nasihat untuk semua usia.
            Masjid merupakan pusat display agama Islam. Karakter masjid harus diperkuat dengan pengajaran hakikat Islam sesungguhnya. Hakikat yang mengajarkan kasih sayang dan keramahan, bukannya amarah dan hukuman. Jika hakikat tersebut tidak terbentuk, maka masjid akan benar-benar kehilangan kader penerusnya. Masjid hanya akan menjadi tempat bagi orang-orang yang berusia lanjut tanpa ada penerus muda di dalamnya.
            Masjid sekarang kalah bersaing dengan tempat lainnya. Walau menawarkan kehidupan dunia dan akhirat, masjid masih tetap kalah menarik dengan mall, warnet, bioskop, dan tempat-tempat lain yang kalau dilihat dari segi kehidupan hanya menawarkan kehidupan dunia.
            Banyak yang tidak tahu bahwa Nabi Muhammad SAW mengajarkan sunah tentang memuliakan anak-anak khususnya di masjid. Nabi sengaja membawa cucunya, umamah dan husain ke masjid. Dan kedua cucu tersebut digembirakan dengan cara digendong seraya bermain di masjid. Malahan demi memuaskan husain bermain di masjid, Nabi Muhammad melamakan sujudnya agar cucunya puas menungganginya seperti kuda tanpa marah sedikitpun. Saking lamanya sujud, para sahabat menduga Nabi Muhammad mendapatkan wahyu, ternyata mereka salah. Nabi Muhammad meng-lamakan sujudnya agar anak-anak puas bermain dalam masjid.
            Seharusnya kisah Nabi Muhammad SAW dalam memuliakan anak di masjid ini ditiru, walau kisah tersebut jarang terdengar, entah sengaja atau tidak, kisah tersebut memang benar nyatanya terutama untuk mereka yang mengaku pecinta Rasul. Kisah nabi dalam memuliakan masjid jangan sampai dilupakan untuk seluruh umat muslim yang ada di dunia, agar anak-anak mau kembali ke mesjid.
            Akan lebih bagus jika pengurus masjid ingin benar-benar memuliakan anak-anak, maka bolehlah berinisiatif membuat area bermain di seputaran masjid. Biarlah anak-anak betah bermain di masjid, sebab lebih aman mereka bermain di dekat rumah Allah daripada bermain di tempat yang jauh dari ajaran agama.
            Jika anak-anak sudah mulai merasa nyaman dan aman berada di masjid, barulah buat peraturan yang menegaskan kapan harus bermain dan kapan harus beribadah. Jika disampaikan tanpa kekerasan dan amarah tentu anak-anak akan bisa menerima peraturan tersebut.
            Akan sangat indah saat telah memasuki waktu shalat, anak-anak datang ke masjid yang menjadi rumah kedua bagi mereka. Jika anak-anak saja antusias ke mesjid tentu akan membuat masyarakat lainnya ikut andil dalam memakmurkan masjid. Jika masjid ramai maka tidak akan ada lagi konser-konser ricuh, cafe yang hingar bingar, jalanan penuh dengan tempat tongkrongan, warnet dan game online full pengunjung, karena semua hal tersebut telah sepi, masyarakat lebih memilih untuk memakmurkan masjid.
            Jika opini anak-anak sudah berubah yang dulunya masjid merupakan tempat yang menyeramkan dan sekarang merupakan tempat yang asyik maka tidak diragukan lagi akan banyak kader-kader penerus masjid. Sehingga masjid menjadi tempat kumpul yang aman, nyaman, ramah, bersih dan menyenangkan setelah diisi dengan anak-anak yang menimba ilmu dunia akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar