Rabu, 25 Januari 2012

Khutbah Idul Fitri Enam Semangat Baru Menuju Kehidupan Yang Bersih

 Sumber: Kumpulan Khutbah

Kaum muslimin yang berbahagia.
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang sangat banyak. Salah satunya adalah nikmat Iman dan Islam, sehingga bisa kita nikmati ibadah Ramadhan yang baru saja kita lewati dan ibadah shalat Idul Fitri pada pagi ini. Semoga apa yang kita laksanakan selalu dapat ridha dari Allah SWT. Amin.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita, Muhammad saw, keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.
Ketika Ramadhan kita akhiri kemarin sore, rasa sedih dan gembira bercampur menjadi satu dalam jiwa kita masing-masing. Sedih karena terasa capat Ramadhan berlalu, sementara kita merasakan Ramadhan tahun ini belum begitu optimal kita manfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Apalagi, kita dibayang-bayangi perasaan belum tentu Ramadhan tahun mendatang bisa kita jumpai lagi, karena usia kita belum tentu sampai. Meskipun bagitu, kita pun bergembira karena teringat akan janji Allah SWT untuk orang yang beribadah Ramadhan dengan baik berupa janji ampunan dosa. Sehingga, kita dikembalikan seperti bayi yang baru dilahirkan. Itu pula sebabnya mengapa tekbir, tahlil, tasbih, dan tahmid kita gemakan hingga pagi ini.
Ibadak Ramadhan yang telah kita tunaikan dengan sebaik-baiknya kita rasakan sekarang ini telah membuat kita memiliki jiea yang baru, semangat yang baru. Begitulah memang seharusnya Idul Fitri kita pahami dan kita hayati. Jiwa baru yang bersih merupakan kehidupan modal yang sangat berharga untuk mewujudkan kehidupan masyarakat dan bangsa yang bersih dari segala tindakan tercela yang telah mencoreng nama baik bangsa.
Yang menjadi pertanyaan kita kemudian adalah semangat apa saja yang harus kita tunjukan dalam kehidupan sesudah Ramadhan. Sehingga, kita termasuk orang yang mengalami peningkatan takwa kepada Allah SWT sesuai dengan nama bulan ini, yakni Syawwal yang artinya peningkatan. Paling tidak, ada enam bentuk peningkatan semangat sebagai bukti bahwa kita telah memiliki semangat baru di hari yang Fitri ini.
Pertama, semangat pengabdian. Pada dasarnya, keberadaan kita dalam hidup ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT dalam arti yang luas. Karenanya, semangat pengabdian harus selalu menggelora dalam kehidupan kita. Masyarakat dan bangsa kita sekarang ini membutuhkan pemimpin dan rakyat yang memiliki semangat pengabdian untuk memperbaiki keadaan, Manakala semangat pengabdian hendak kita tunjukkan, maka pertanyaan ke dalam jiwa kita dalam setiap aktivitas adalah “Apa yang bisa saya berikan kepada umat dan bangsa ini,”bukan”Apa yang bisa saya dapatkan dari umat dan bangsa ini,”serta bukan”jadi apa saya bila begini dan begitu.”
Ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki semangat pengabdian yang tinggi selalu berusaha agar keberadaannya bisa memberi kontribusi manfaat kebaikan yang sebesar-besarnya. Ia pun merasa sangat rugi bila keberadaan dirinya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Dalam hadits, Rasulullah saw, bersanda:



“sebaik-baik orang adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain.”(HR al-Qudha’I dari Jabir r.a)

Dalam proses memperbaiki bangsa, hilangnya semangat pengabdian merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Hal ini karena bila yang demikian itu terjadi pada individu seseorang, maka ia akan berkembang menjadi annaniyah (egois atau mementingkan diri sendiri). Ia tidak peduli apakah ia bersalah atau tidak, apakah ia mampu atau tidak. Baginya segala ambisi harus bisa dicapai, meskipun harus menghalalkan segala cara. Sedangkan bila hal itu terjadi pada kelompok, maka hal itu akan menimbulkan’ashabiyah atau fanatisme kelompok secara berlebihan
Allahu Akbar (3X) walillahi hamdu.

Jamaah sekalian yang berbahagia.
kedua,jiwa yang baru seharusnya memiliki semangat pelayanan. Setiap orang, apabila seorang pemimpin, seharusnya bisa melayani orang lain dengan sebaik-baiknya, ini merupakn kelanjutan dari semangat pengabdian, karena itu dalam sejarah kepemimpinan Islam, kita dapati banyak pemimpin yang begitu cinta kepada rakyatnya. Sehingga ia mau melayani rakyat yang dipimpinnya itu. Satu di antaranya adalah Khalifah  Umar ibnul Khaththab r.a yang pada malam hari seringkali mengunjungi rakyanya dari rumah ke rumah.
Hal itu ternyata dilihat oleh sahabat Thalhah r.a keesokan harinya. Thalhah mendatangi rumah seorang nenek yang sudah tidak mampu berjalan, rumah yang didatangi oleh Umar ibnul Khalifah Umar datang kemari semalam?”.
Wanita itu menjawab,”Sudah lama ia berbuat seperti itu. Ia melayani kebutuhanku dan menghiburku di kala sedih.”
Mendengar hal itu, Thalhah berkata,”Celaka engkau Thalhah, karena engkau selalu kalah dengan Umar bgitulah Thalhah menyesali dirinya.
Semangat untuk saling melayani itulah sekarang ini yang telah terkikis, bahkan hilang dari masyarakat kita. Lebih tragis bila hal itu terjadi pada kalangan pemimpin yang seharusnya memang melayani orang-orang yang dipimpinnya. Ibadah Ramadhan telah mendidik kita untuk memiliki semangat melayani, yang disimbolkan dalam bentuk pengorbanan yang dilakukan seperti memberi makan dan minum kepada orang yang berbuka, hingga menunauikan zakat fitrah.
Ketiga, semangat baru yang harus kita miliki adalah semangat pembela. Ibadah Ramdhan telah mendidik kita untuk menjadi orang yang memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Karenanya, setiap kita seharusnya siap membela dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika Rasulullah saw, berhijrah dengan para sahabatnya ke Madinah, kaum Muslimin yang berada di Madinah menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Mereka memberikan pertolongan dengan siap mengorbankan apa yang mereka miliki. Karenanya, mereka disebut dengan kaum Anshar (orang yang memberikan pertolongan). Mereka menunjukkan persaudaraan yang tinggi, yakni itsar atau mengutamakan ornag lain.
Disamping itu, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a menjadi Khalifah, terjadi krisis ekonomi yang sangat berat yang membuat rakyat tidak punya bahan makanan. Ketika mereka datang ke rumah Khalifah Abu Bakar, ternyata beliau sejak kemarin tidak punya bahan makanan. Karenanya, hanya air mata yang bisa diperlihatkan oleh Abu Bakar. Dalam situasi seperti ini, ternyata Utsman bin Affan r.a membeli bahan makanan dalm jumlah yang snagat banyak untuk dibagikan kepada masyarakat yang lapar dan dalam waktu sangat singkat krisis ekonomi itu dapat diatasi. Tidak adanya semangat pembela dan berkembangnya semangat mementingkan diri sendiri menjadi salah satu faktor yang membuat krisis ekonomi, di samping krisis yang lain di negeri kita ini tidak cepat teratasi.

Allahu Akbar (3X) walillahi hamdu

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Semangat bartu keempat adalah semangat pemberdayaan. Sekarang ini kita semakin menyadari bahwa umat Islam sebenarnya umat yang memiliki potensi yang besar, tapi belum menghasilkan kekuatan yang berarti. Umat ini kita rasakan masih menjadi seperti buih di lautan yang sangat bergantung pada ke mana arah ombak. Umat ini belum berdaya. Dalam kasus pemilu-pemilu yang lalu umat ini diperjualbelikan untuk kepentingan politik, yang justru tidak sejalan dengan politik Islam.
Oleh karena itu, semangat baru yang kita miliki sekarang seharusnya juga mencerminkan semangat untuk meningkatkan pemberdayaan umat, aqidahnya berdaya, sehingga kuat ikatannya kepada Allah SWT, pemikirannya berdaya sehingga tidak mudah diombang-ambing oleh pemikiran yang tidak sesuai dengan Islam, dan amaliahnya juga berdaya sehingga segala aktivitas yang dilakukannya berorientasi kepada kebaikan, yang sesuai dengan perinsip-perinsip Islam.
Kelima,semangat pembinan. Ketidakberdayaan umat Islam lebih karena umat ini belum mendapatkan pembinaan yang intensif atau yang sungguh-sungguh. Ibadah Ramadhan yang telah kita tunaikan dengan segala aktivitas pendukungnya membuat umat ini merasa memperoleh pembinaan. Oleh karena itu, pembinaan umat tidak akan berhenti seiring dengan berakhirnya Ramadhan, tapi justru akan segera kita lanjutkan.
Untuk itu, masjid harus bisa kita jadikan sebagai basis pembentukan dan pembinaan umat. Pengurus dan jamaah masjid harus bahu-membahu dan bekerjasama dengan  sebaik-baiknya, untuk melestarikan pemakmuran masjid sebagaimana yang sudah kita lakukan pada Ramadhan tahun ini. Semangat membina diri, membina keluarga, dan membina masyarakat ke arah kokohnya ketakwaan kepada Allah merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal ini karena dengan iman dan takwa itulah, keberkahan hidup akan kita peroleh. Allah SWT beriman:







dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”(al-A’raaf:96)

Allahu Akbar (3X) walillahi hamdu

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah SWT.

Semangat baru yang keenam yang kita hasilkan dari ibadah Ramadhan adalah semangat perjuangan. Ibadah Ramadhan telah mendidik kita untuk menjadi pejuang-pejuang Islam sejati. Karena itu, kita dilatih untuk mempu berjuang melawan hawa nafsu, karena hawa nafsu yang tidak terkendali itu bukan hanya membuat kita menjadi malas berjuang, tapi justru merusak nilai-nilai perjuangan itu sendiri. Sekarang setiap kita sangat dituntut untuk terlibat secara aktif dalam perjuangan membela umat dan memperjuangkan aspirasinya.

Untuk itu, jangan sampai ada di antara kita yang hanya mau hidup sendiri atau bersenang-senang dengan anggota keluarganya, tanpa melibatkan diri dalam perjuangan. Apa bedanya kita yang telah mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang yang munafik,bila kita tidak mau terlibat dalam perjuangan? Orang-orang munafik selalu menghindar dari tuntutan perjuangan di jalan Allah SWT dengan berbagai alasan.

Manakala kita mau berjuang di jalan Allah SWT, harus kita sadari bahwa perjuangan yang memang berat tidak mungkin bisa kita laksanakan sendirian. Bahkan, oleh sekelompok kaum Muslimin sekalipun. Karenanya, diperlukan keterlibatan atau koalisi semua pihak dengan kerja sama yang baik. Inilah yang membuat Allah SWT menjadi cinta kepada kita, hal ini terdapat dalam firman-Nya.
 “sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratus, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh.”(ash-Shaff:4)

Dari uraian khutbah yang singkat ini, dapat kita simpulkan bahwa berakhirnya bulan suci Ramadhan bukan berakhir pula semangat baislaman kita. Tetapi, justru marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik tolak untuk melakukan perbaikan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Marilah awal upaya peningkatan itu kita mulai hari ini. Inilah esensi Syawwal sebagai bulan sesudah Ramadhan yang berarti peningkatan. Ini semua harus kita tunjukkan karena kita tidak ingin kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa selalu berada dalam kekotoran. Dari kebersihan jiwa yang telah kita hasilkan melalui ibadah Ramadhan, seharusnya bisa kita upayakan proses pembersihan keluarga, masyarakat, dan bangsa dari sifat-sifat tercela.
Akhirnya, marilah kita tutup khutbah Idul Fitri tahun ini dnegan sama-sama berdoa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar