Minggu, 14 Mei 2017

Cerpen: Cinta Sejati

Hari itu terik matahari bersinar lebih terang dari biasanya, tak tampak satupun awan yang hadir untuk menutupinya. Sudah beberapa hari ini langit bak kanvas biru tanpa noda, yang menandakan musim panas akan segera tiba. Di balik ranting pepohonan para tupai melompat-lompat kesana kemari tak menghiraukan terik mentari, rimbunnya pepohonan menjauhkan mereka dari panas. Para tupai tidak peduli bahwa sebentar lagi musim kemarau kan datang, air akan menjadi barang rebutan para mamalia, air di ladang akan menyusut dengan banyaknya, ikan-ikan akan bermigrasi ke tempat yang lebih dalam, semua itu tidak masalah bagi para tupai asal cadangan makanan cukup untuk beberapa bulan kedepan.
Di sudut jalan ada sesosok gadis yang berlari dan tak sengaja menyenggol kaleng yang tergeletak di pinggir jalan, sontak mengagetkan para tupai yang bermain di pepohonan. Gadis tersebut adalah Astrid, dia berlari dan terus berlari seakan-akan menjauh dari sesuatu di belakangnya, walau tak ada yang mengejarnya. Tampak air mata menetes lembut diantara kedua matanya yang cantik.
Dua tahun yang lalu.
Namanya Astrid, salah satu wanita tercantik di kampus. Banyak yang jatuh hati padanya, sosoknya yang ramah dan mudah bergaul membuatnya jadi incaran pria untuk mendapatkan hatinya. Memang benar cinta itu adalah sebuah misteri, dari sekian banyak pria yang berusaha tak ada satupun yang mampu menggetarkan hati gadis cantik ini. Baik yang kaya maupun yang tampan, belum ada yang berhasil merebut perhatian Astrid.

Namun semua itu berubah, Astrid tunduk dengan sesosok pria yang ia temui saat studi wisata. Namanya Rangga, pria desa yang memiliki tampan rupawan, tapi bukan hanya dari fisik yang dilihat Astrid, sikap yang santun dan perhatian benar-benar membuat Astrid takluk. Lagipula entah kenapa Tuhan seakan-akan membimbing jalan dan waktu kepada mereka berdua, sehingga setiap kali Astrid berjalan saat studi wisata selalu ada sosok Rangga disana. Saat pagi, siang, dan malam mereka dipastikan bertemu. Padahal tak ada kata janjian, tak ada kata sengaja, semuanya terjadi begitu saja.
Hingga akhirnya Rangga memberanikan diri meminta no hp Astrid, dari situ hubungan mereka semakin dekat. Seperti benih biji di padang yang subur, cinta mereka tumbuh begitu cepat. Hingga akhirnya, Rangga berjanji akan menikahi Astrid saat Astrid telah menyelesaikan kuliahnya. Astrid bukan main senangnya, memang Rangga hanya tamat SMA dan hidup sebagai petani di desa, tapi Astrid yakin bahwa cinta mereka akan bertahan dalam lika-liku bahtera kehidupan.
Tapi, layaknya kisah cinta Siti Nurbaya, cinta Astrid dan Rangga terhalang orangtua. Astrid telah dijodohkan dengan teman lama ayahnya, pemuda kota yang merupakan pewaris perusahaan rangka baja nasional bernama Sadewa. Astrid tidak mau dijodohkan karna hatinya kini sudah ada yang punya, apa hak Sadewa hingga bisa memilikinya?. Astrid menolak, pada waktu lamaran dia berlari di jalan memecah sinar mentari yang menandakan bahwa musim kemarau kan datang dan akan merajalela.
Lamaran tetap saja lamaran, sebagai wanita yang masih tanggung jawab orangtua, Astrid masih belum bisa menentang sepenuhnya arogansi yang dialaminya. Walau hati menolak, tetap saja mulut kedua orangtuanya berkata setuju. Memang tak bisa dipungkiri keluarga Sadewa sangat berjasa membantu keluarga Astrid. Dulu disaat ayahnya menimbun hutang terlalu banyak hanya ayah dari Sadewa yang memberi uang secara cuma-cuma untuk membantu.
Mendengar pujaan hatinya telah dilamar oleh pria lain, hati Rangga bak runtuh kedalam samudra. Bagaimana cintanya yang suci terhalang oleh sesosok pria yang bahkan tak tahu arti sebuah kerinduan. Rangga meminta penjelasan kepada Astrid, meminta lamaran tersebut ditolak dan bersedia kawin lari dengannya. Sayangnya Astrid masihlah wanita yang tunduk kepada orangtua, ia tak bisa melawan sosok yang telah membesarkannya. Walau pahit, Rangga akhirnya memasrahkan cintanya direbut.
Waktu berlalu begitu cepat, Astrid telah menyelesaikan kuliahnya. Hingga akhirnya hari pernikahan tiba, Rangga datang jauh-jauh untuk melihat cinta sejati untuk terakhirnya kalinya. Sakitnya bagai menyanyat hati, melihat wanita pujaan bersanding dengan pria asing. Andai dialah sang mempelai pria tentu akan beda rasanya, tapi apa bisa dikata. Balas budi orangtua Astrid tak bisa dibayar hanya dengan kata tapi ditawar dengan harga lain yaitu anaknya.
Rangga hanya bisa memperhatikan dari jauh, kakinya begitu berat untuk melangkah. Dia pun tak sanggup berdiri terlalu lama disana, akhirnya dengan hembusan nafas yang berat, Ranggapun pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada kekasih.
Kehidupan Astrid dengan Sandewa memang bukan seperti yang disinetron-sinetron yang penuh dengan dilema dan prasangka. Kehidupan keluarga mereka hampir sama dengan kehidupan mahligai rumah tangga pada umumnya, hanya saja tak ada cinta Astrid disana. Sandewa bukan termasuk pria yang sensitif dan juga pria yang posesif jadi dia tidak begitu mau tahu apa dan dimana Astrid saat dia pulang. Sandewa pun lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, maklum penerus pengusaha baja ringan harus sering dilapangan demi memantau kinerja para bawahan.
Anak hasil hubungan rumah tangga mereka pun lahir lima tahun kemudian. Astrid begitu mencintai buah hatinya, seorang wanita cantik yang begitu mirip dengannya. Dia beri nama Mutia Kasih. Dalam doa pertama Astrid kepada anaknya, dia hanya meminta kepada Tuhan, agar kehidupan cinta anaknya tidak bernasib sama dengannya.
 Mutia tumbuh dengan cepatnya sebagaimana waktu yang terus berputar. Tak terasa umur Mutia Kasih kini sudah 25 tahun, umur yang telah matang untuk seorang gadis. Mutia telah tumbuh menjadi seorang putri cantik dari lulusan Universitas Pancasila, dan kini telah bekerja di BNI sebagai costumer service.
Sebagai anak semata wayang, Astrid sudah menanyakan kepada Mutia kapan dia mulai berkenan untuk melepas masa lajangnya, bahkan semenjak Mutia menginjak umur 23 tahun. Astrid menasehati bahwa jangan terlalu sibuk memikirkan karir, karena karir semakin dikejar semakin membiuskan kehidupan. Jangan sampai terlupa bahwa pria dan wanita diciptakan berpasangan, memang sudah kodratnya bahwa menikah merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat.
Hingga suatu hari, Mutia mengatakan bahwa ada seorang pria yang mau meminangnya. Astrid senangnya bukan main, Sadewa pun senang dengan kabar tersebut, sudah lama mereka menantikan kehadiran cucu untuk melengkapi kehidupan keluarga mereka. Maklum usia semakin hari semakin bertambah, ubanpun sudah semakin banyak mendominasi rambut dikepala.

Hingga akhirnya, hari yang telah ditentukan tiba. Rombongan calon mempelai pria datang dengan meriahnya, para tetangga bertanya-tanya, siapakah sosok pria yang berhasil merebut hati wanita tercantik di komplek mereka. satu persatu tamu undangan masuk ke rumah Astrid dan Sadewa, tampak meriah dan senyum merekah disana-sini. Tapi ada yang berbeda, ya.. Astrid mengenal dengan jelas sosok pria bertubuh atletis yang berada di samping calon menantunya. Begitu pula dengan pria tersebut, dia mengenal dengan jelas wajah Astrid. Wajah yang selalu dia kenang dalam tiap mimpi-mimpinya, wajah yang tak bisa dia hapus begitu saja, kenangan yang takkan hilang walau diterpa badai.
Calon besannya tersebut adalah Rangga, pria kampung yang dulu telah berhasil menaklukkan cintanya, bahkan bisa jadi sampai sekarang, hanya sosok Ranggalah yang tetap ada dihatinya.

Astrid dan Rangga saling bertatapan, melepas rindu yang tak bisa diungkapkan. Mengingatkan kembali kenangan manis dan luka lama di dulu sempat terkubur begitu dalam. Mereka bertanya-tanya kenapa Tuhan kembali mempertemukan mereka dengan cara yang diluar sangkaan. Seakan-akan mengatakan bahwa cinta itu luas cakupannya, jika Astrid dan Rangga tidak bisa bersatu dalam ikatan janji suci perkawinan, setidaknya hal tersebut dapat diwariskan kedua anak kalian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar