Minggu, 04 Juni 2017

Opini: Mencari Tujuan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan adalah pintu masuk sebuah kesuksesan, dimana jika tidak ada perannya terhadap sesuatu maka akan membuat arah yang keliru. Pendidikan sesuai dengan amanah negara Indonesia adalah sebuah kewajiban dan setiap warga negara wajib menempuh pendidikan selama sembilan tahun. Dalam kegiatan belajar mengajar yang ‘wajib’ diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia itu ditempuh dalam tiga tahap, yaitu tahap sekolah dasar selama enam tahun, tahap sekolah menengah pertama selama tiga tahun, dan tahap sekolah menengah atas selama tiga tahun. Terus pertanyaannya, selama sembilan tahun menempuh pendidikan di sekolah apa saja yang telah didapat?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada dua jawaban yang pasti, yaitu mendapatkan ilmu dan yang satunya tidak ada pengaruh apa-apa. Jika kita telusuri lebih jauh, maka makna dari pendidikan itu sendiri apa? Apakah hanya duduk manis di kelas, mendengarkan guru, dan mengerjakan soal? Atau sebuah kegiatan transfer ilmu yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Atau hanya sekedar mengejar nilai di kelas?.
Filosofi pendidikan itu sendiri mempunyai makna yang tinggi dan dalam. Karena itulah jika Indonesia ingin maju maka pendidikanlah yang harus diutamakan. Tidak ada negara berkembang yang menjadi negara maju jika pendidikan di negaranya sendiri masih belum merata dan terdapat kekurangan disana-sini. Untuk membuat mutu pendidikan itu sendiri menjadi lebih baik maka hal pertama yang harus diutamakan adalah tersedianya sumber daya guru yang mempuni.

Tapi yang terjadi saat ini sangat disayangkan, di beberapa tempat ada saja hal-hal yang membuat hal tersebut sulit terjadi. Untuk menjadi seorang guru saja bukan keahlian calon guru tersebut yang dinilai, tapi faktor uang atau bisa disebut suapnya berapa besar. Alhasil ada guru yang kurang menguasai materi dalam kegiatan belajar mengajarnya sehingga apa yang diajarkan tidak dapat dimengerti oleh para murid atau bahkan lebih parah, materi yang diajarkan tidak sesuai dengan pelajaran yang semestinya.
Dimulai dari faktor sumber daya guru, merembetlah ke kualitas peserta didiknya. Walau ada mata pelajaran yang bermaksud mendidik akhlak dan kelakuan para murid dan ada tempat konsultasi seperti kantor bimbingan konseling, tetapi rasa-rasanya hal tersebut masih kurang dalam mengubah kelakuan para murid untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sehingga ditakutkan generasi muda penerus bangsa ini menjadi generasi yang apatis dan menghalalkan segala cara untuk memudahkan kehidupannya.
Pada masa ujian nasional misalnya, tidak sedikit para pendidik yang mengajarkan para muridnya untuk berbuat curang. Bagaimana tidak, lulus atau tidaknya para murid menjadi faktor keberhasilan sekolah tersebut menjadi sekolah yang baik. Jika terdapat satu saja muridnya yang tidak lulus, maka sekolah tersebut akan malu dan mendapatkan reputasi jelek di mata masyarakat. Tentu saja tidak ada guru maupun kepala sekolah yang mau sekolah dimana dia mengabdi menjadi sorotan buruk di masyarakat.
Dengan pendidik yang buruk maka tidak mengherankan jika lahirlah generasi peserta didik yang buruk juga. Tapi tidak semua pendidik itu buruk, masih ada pendidik yang menjadi guru dengan cara yang baik, mempunyai keahlian yang memadai, dan tentu saja mempunyai akhlak ikhlas dalam mentransfer keilmuan ke murid-muridnya.
Jika tujuan pendidikan yang ada di Indonesia sesuai dengan amanat yang tercantum dalam undang-undang maka semua pihak harus berperan aktif dalam prosesnya. Anggap saja pendidik dan peserta didik yang ada saat ini adalah generasi terbaik, tapi masih diperlukan penunjang-penunjang lain untuk mensukseskannya. Salah satu penunjang pendidikan adalah tersedianya sarana dan prasarana.
Tapi karena beberapa faktor seperti faktor geografis daerah di Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau sehingga aksesnya sulit, faktor korupsi yang ada di pusat dan daerah tentang pengadaan gedung dan alat-alat sekolah, dan faktor-faktor eror lainnya membuat penyebaran sarana dan prasarana di Indonesia menjadi tidak merata. Terjadinya kesenjangan sarana dan prasarana di kota dan di desa. Jadi akan sangat tidak adil jika faktor kesuksesan pendidikan harus disama ratakan antara satu tempat dengan tempat yang lainnya.
Jika ingin menyalahkan siapa? saat ini jawabannya kembali ke diri masing-masing, apakah peran kita mempunyai andil dalam kemajuan pendidikan Indonesia saat ini. Jangan memposisikan diri sebagai individu yang tak bersalah, sebab tercapai atau tidaknya tujuan Indonesia karena bantuan dari semua pihak tanpa terkecuali.
Pemerintah telah berusaha untuk membuat sistem pendidikan yang lebih baik agar terdokumentasi dan tersusun dengan rapi dalam penerapan kegiatan belajar mengajar, yang saat ini dikenal dengan kurikulum 2015. Kandungan dari kurikulum tersebut telah bagus, tetapi ada juga kelemahannya, terutama pembuatan laporan pelajaran yang menyita waktu seorang guru untuk membuatnya. Sedangkan para guru dituntut untuk berimpropivasi dalam pembelajaran agar bisa menyesuaikan dengan karakter setiap murid yang sudah pasti berbeda-beda. Sehingga proses transfer ilmu merata terhadap semua murid sesuai dengan jadwal materi yang telah ditetapkan.
Untuk melihat masa depan suatu bangsa maka tidaklah salah bisa memprediksinya dengan melihat generasi mudanya. Bagaimana suatu bangsa mau menolak korupsi jika peserta didiknya sedari awal telah diajari untuk tidak jujur?. Bagaimana pula suatu bangsa mempunyai bangsa yang santun dan sopan, jika saja pengaruh pendidikan tidak sampai keranah pembentukan kepribadian yang baik?
Sekarang pengaruh globalisasi sangatlah besar dalam kehidupan pendidikan di Indonesia. Kalau dulu murid-murid harus membuka buku kesana kemari di perpustakaan untuk mencari referensi keilmuan tetapi sekarang hanya dengan mencari di internet, semua jawaban telah tersedia. Pengaruh kemajuan tersebut jika tidak diarahkan dengan baik maka akan berdampak negatif bagi penggunanya. Bagaimana tidak, konten pornografi juga bisa ditelusuri dengan mudahnya, dan tidak ada yang tahu karena itu semua dalam genggaman.
Tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan generasi bangsa. Semua itu harus didukung penuh oleh setiap elemen bangsa, dimulai dari pemerintah sampai dengan masyarakat jelata. Hentikan perdagangan kualitas pendidikan yang membuat tidak meratanya aspek keilmuan. Tidak ada sekolah unggulan maupun bukan sekolah unggulan, semuanya sama begitu pula dengan kegiatan belajar mengajar maupun sarana prasarana di dalamnya.

Sudah saatnya semua bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme dihilangkan dalam pendidikan di Indonesia. Bagaimana bisa maju pendidikan jika faktor-faktor penghancur bangsa masih berdiri kokoh dalam pendidikan yang merupakan penunjang masa depan bangsa. Pemerintah harus tegas memberi hukuman terhadap para pelaku perusak pendidikan. Selain itu juga pemerintah harus peka terutama dalam mensejahterakan para guru agar mereka fokus dalam menstransfer keilmuan yang mereka miliki tanpa dipengaruhi oleh kekurangan finansial.
By: RaSyBa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar