Minggu, 29 November 2015

Hidup Itu Indah Kawan

Oleh: Dicki Chun

Tampak cerah wajah para makhluk penghuni kota ini memandang langit, menyambut berkah Tuhan yang telah dinanti-nanti. Perlahan tapi pasti hujan rintik menyapu penjuru alam dengan butiran lembutnya, menyibak debu-debu sisa dari kemarau yang menyelimuti udara. Air membasuh dan membawa kembali warna kota yang kusam, membawa kembali warna hijau dari dedaunan yang telah pudar.
Dari sebuah halte bus, dalam syukur aku tersenyum memandangi dan menikmati keadaan ini. Yah, mungkin ungkapan ini klise bagimu teman, “hujan kerap selalu membawa kenangan masa lalu”. Namun tidak bagiku. Hujan ini, ditempat ini,  sama seperti waktu itu, ketika hujan membasuh jiwa ku yang kusam dan terkulai lemah dalam keputusasaan. Yups... tepatnya 3 tahun yang lalu, di kota ini, kenangan membawaku kembali kemasa itu menembus waktu, kembali ketempat ini, dihalte ini. Masih tergambar jelas bagaimana waktu itu, dibawah rintik hujan kuberjalan tertatih menyeret langkah yang lunglai tak bertenaga.

Sekelebat terlintas bayang wajah anak dan istri yang menanti dirumah. Tak sanggup ku menatap kedua wajah itu, apa yang akan ku katakan nanti pada mereka. Terasa perih, membayangkan bagaimana perasaan mereka saat tahu apa yang telah terjadi. Tanpa pekerjaan bagaimana aku akan menafkahi keluargaku..??.  Perusahaan tempat dimana ku mengais rezeki tak lagi memerlukan tenagaku. Sialnya, sebagai tenaga Kontrak, aku bersama ke 15 PHL (Pegawai Harian Lepas) lain tak mendapatkan tunjangan. Seiring dengan Hujan yang semakin deras membasahi bumi, tangisku mengalir tanpa bisa kubendung, benar kawan saat itu aku merasa  rapuh tak berdaya.
Kawan, beribu kehawatiran seolah melayang dan berputar mengerubuti ku. Bagaimana nanti aku akan memberi mereka makan, membayar kontrakan rumah tempat kami kini berteduh, kemana kami kan tinggal. Lalu bagaimana dengan masa depan putri kecilku. Bagaimana nanti aku membiayai sekolahnya, jangankan untuk membelikannya seragam baru seperti yang kujanjikan, untuk bisa bertahan hidup saja aku bingung bagaimana.
Di halte bus ini aku bersandar, kutarik nafasku sedalam mungkin. Berharap bisa mengusir segala sesak yang memenuhi rongga dadaku bersama dengan nafas yang kuhembuskan. “Tuhan... apa yang harus kulakukan…???” doa ku dalam rintihan. Dibawah hujan tampak beberapa orang berlari dan ikut berteduh. Tak hanya mereka, beberapa pengendara motor juga bergabung, melindungi diri dari guyuran hujan. Tak butuh waktu lama, halte ini telah penuh oleh berbagai macam orang. Mulai dari seorang tukang pos, pegawai negri, 2 orang bocah pengamen dan seorang pemuda penjual asongan. Tampak  juga beberapa mahasiswa/mahasiswi yang memeluk kotak sumbangan dengan gambar seorang bocah cilik dan beberapa tulisan disana. Beberapa dari mereka mulai ngobrol sembari menunggu hujan reda. Walau mungkin baru pertama kali bertemu, tampak pak pos dan para mahasiswa/mahasiswi itu mulai akrab berbincang. Sementara si bocah pengamen mulai memainkan beberapa lagu atas permintaan si pegawai negeri.
“Minumannya bang atau cemilan sambil nunggu hujan berhenti???” si pedagang asongan menghampiriku sambil menawarkan jajanannya.
Dengan wajah getir yang kupaksakan tersenyum kutolak tawarannya.
“Kalau tisu mau bang, buat lap yang basah-basah???” tawarnya lagi yang juga kutolak.
“Kalo rokok gimana, mau bang rokok??”
“Saya gak merokok” jawabku tegas. Ni orang mulai nyebelin deh, bisik batin ku kesal.
Si pedagang asongan manggut-manggut
“Kalo abang gak ngerokok, permen aja deh bang, gimana….???”
Wah, ini orang kayaknya ngajak berantem, gak tau orang lagi stress apa??.
“Maaf dek, saya lagi gak pengen beli barang dagangan kamu..!!!” sahutku ketus.
Kembali sipedagang asongan mangut-mangut. Kuhembuskan nafasku perlahan, mencoba meredam emosi.
“Eemmm.... gimana kalau......
Kutatap langsung jauh kedalam matanya. seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Kurasa tak perlu kujelaskan lagi padanya bagaimana kondisiku saat ini. Seketika  kalimatnya terhenti.
“sekali lagi nawarin dagangan... gue tonjok!!!” bisik ku.
Si pedagang mingkem menelan ludah.
“Sabar bang, sabaarrr...” bisiknya padaku. Kupejamkan mata  dan bersandar pada dinding halte. “Astaugfirullahhallaziim....” Sebisa mungkin ku atur nafas mencoba menenangkan diri.
Si pedang asongan masih duduk disampingku, Ia tampak shock dan agak ketakutan. Sesekali ia mencuri-curi pandang padaku. Kasihan juga, timbul sedikit rasa tak enak hati dan bersalah padanya.
“Punya air mineral gak..???, beli deh satu…..” ujarku ku seraya menyerahkan 2 lembar uang 2 ribuan.
 “Ada bang...” sambil menyerahkan minuman, takut-takut ia menerima uang dariku.
 “Terima kasih...” ucapku sambil meraih botol air mineral darinya.
Beberapa menit telah berlalu dan hujan masih belum menampakkan tanda-tanda akan reda. Dan parahnya, suasana dihalte itu kini berubah riuh, menjelma seperti suasana di sebuah konser music. Saat ini para bocah pengamen mulai tampak menggila, beraksi dengan gitar dan kecrekannya, belum lagi si pedagang asongan yang memeriahkan suasana dengan gaya noraknya meniru seorang MC, mengajak seluruh umat manusia yang berteduh dihalte ini untuk berjoget dan dengan suka rela mereka menuruti keinginan si pedagang asongan tersebut. “yaaa tuhaaaaaannn....” jerit batinku kesal. Emosi yang semula mulai mereda kembali bergejolak.
“Abang, heiii abaaang yang dipojok sanaaaa... ayoooo... mari berjoget bersamaaa!!!”
Teriak si pedagang asongan padaku. Ku tatap si pedagang asongan dengan penuh Kesal, namun dibalasnya dengan senyum tulus yang menghiasi Wajah polos dan lugunya.
“Haaadeeehhhh...“ keluhku seraya menghembuskan nafas. Entah kenapa tiba-tiba sekujur tubuhku terasa lemas. emosiku pudar begitu saja melihat wajahnya. Emosi yang tadi menggebu tiba-tiba drop, kembali ku sandarkan tubuhku.
“Ayooookkk bang... jangan murung aja disitu, kita joget bareng” ujarnya semangat sambil tertawa.
Aku tersenyum dan menggeleng menolak ajakannya. Mereka menari, bernyanyi dan tertawa diiringi lagu dalam derai gemuruh hujan. Seolah tak ada masalah, tak ada lagi duka dan kesedihan pada diri mereka. Seolah segala beban dan masalah terhapus begitu saja dari mereka. Mereka menjelma tampak seperti anak kecil, tak bisa lagi ku bedakan.
Tanpa sadar, aku ikut tertawa menyaksikannya. Sejenak beban itu seolah terangkat dan melupakan segala rasa takut serta  kekhawatiranku. Walau tak ikut menari dan bernyanyi aku hanyut dalam suasana bersama mereka.
Hujan telah berhenti, kami para penghuni halte bergegas kembali melanjutkan perjalan masing-masing. Sebelum berpisah, si pedagang asongan menghampiriku dan memberikan 3 buah buah permen bertulisan di bungkusnya. “TETAP SEMANGAT”, “JANGAN MENYERAH”, “TERUS BERJUANG”.
“Tadi saya lupa ngasih kembaliannya bang, karna gak ada uang 500-an permen saja ya”
Ujarnya sambil tersenyum  sambil berlalu. sementara Aku terdiam dan terpaku disini menatap permen-permen itu. Aku tersenyum sendiri.
“Benar, tetap semangat, jangan menyerah dan terus berjuang” bisikku. Langkahku terasa mantap, semangat yang lenyap seolah kembali. Yah, semua ini memang harus ku hadapi, apa jadinya bila aku menyerah begitu saja ada keadaan.
Demi anak dan istri ku tercinta, aku tak boleh lemah, aku harus tetap berjuang. Sesampai di rumah, segera kuhampiri istriku lalu kukecup keningnya. Ia tampak kaget, tak biasanya aku begini pikirnya.
“Reva mana???” Tanyaku.
“Lagi main dirumah tetangga sama temen-temennya”
Sejenak kutarik nafas mempersiapkan diri. “Rin, sini bentar deh, abang mau ngomong sesuatu”
Rini bergegas mendekat. Kuserahkan amplop gaji terakhir yang kuterima dari kantor.
“Subhannallah...” ujarnya penuh syukur.
Itu... gaji terakhir abang dari PT.... gunakan dengan bijak ya” ujarku tenang.
Rini mengernyitkan dahi. “Gaji terakhir???”
Dan dimulailah, inilah detik detik paling  menegangkan yang pernah kualami dalam hidup. Secara Perlahan, kuceritakan semua yang terjadi di perusahaan. Rini tampak tenang menyimak, meski sekilas tampak rasa khawatir dan gundah terbesit diwajahnya. Kau tahu kawan, untuk hal ini harus kuakui, wanita memang jauh lebih kuat dari kita para lelaki dalam menghadapi kenyataan. Ia tampak begitu tabah, tak ditunjukkan sedikitpun rasa getir itu padaku. Dengan rapi ia menyembunyikannya, aku tahu, pasti ia juga merasakan hal yang sama denganku saat pertama kali mendapat kabar ini. Namun kawan, ia seolah tak terpengaruh, dengan begitu tenangnya ia menghimbur dan menyemangati diri ku.
“Abang yang sabar ya... mungkin ini cobaan untuk kita. Jangan terlalu dipikirkan, insyaAllah semua pasti ada jalan keluar” ujarnya lembut. Dibelainya rambutku dengan mesra membuatku rasanya ingin menangis. Namun segera kutahan. Sebagai kepala kepala keluarga aku tak boleh menunjukkan kelemahanku.
“Sekarang abang ganti baju dulu gih, aku siapin kopi ya…” Bergegas ku masuk kekamar sambil menyeka mataku yang berkaca-kaca.
“Terima kasih Tuhan, kau berikan aku seorang istri yang tabah untuk mendampingiku” bisik hati ku lirih.
Sore itu kami habiskan dengan bercengkrama diteras. Airin berlari menghambur kepelukanku, setelah ia pulang bermain bersama temannya. Segera istriku memberi komando padanya untuk mandi.
Aku tercenung memandang keluarga kecilku ini dalam haru. Malamnya, menjelang tidur, Rini memelukku mesra begitu hangat mendamaikanku.
“Abang jangan terlalu banyak pikiran ya, insyaAllah dengan uang yang abang kasih tadi dan simpanan yang kita punya, untuk 3 bulan kedepan kita masih bisa bertahan insyaAllah.” Ujarnya.
Aku mengernyitkan dahi,
 “Simpanan, emang kita punya simpanan???”
Rini tersenyum dan melengos. “ Ya iya lah bang, abang lupa siapa istri abang ini, yang cantik, baek hati dan rajin menabung???” candanya.
Dengan gemas ku peluk istriku. Tuhan begitu baik, ia memberikan pendamping yang sangat tabah dan kuat, serta mampu menjaga suami dan anaknya ini.
Benar kawan, tiga tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Aku bekerja segala yang ku bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilku. Kulalui hari dengan melamar pekerjaan di beberapa perusahaan sebagai mekanik mesin seperti pekerjaanku di perusahaan yang lama. Sisanya kulalui dengan bekerja keras, mulai dari tukang ojek, kuli bangunan, tukang parkir dan sebagainya demi memenuhi kebutuhan keluarga kami. Sulit memang dizaman sekarang mencari pekerjaan. Jadi yah, apa boleh buat.
Sedikit demi sedikit setelah bekerja sekian lama menabung, akhirnya aku bisa mengumpulkan uang untuk memulai usaha milikku sendiri, yah walaupun masih menyewa tempat.
Dengan keahlian sebagai mekanik dan pendidikan di STM dulu, kubuka sebuah bengkel dan tambal ban. Alhamdulillah, dengan izin dari tuhan yang maha kuasa, usahaku berjalan lancar. Juga berkat pinjaman yang didapat dari sebuah badan pinjaman usaha,  aku bisa mengembangkan usahaku dan kini bisa membuka bengkel sekaligus toko alat sparepart motor. Aku bersyukur, kami bisa bertahan.
 Tiba-tiba Seorang bocah pengamen datang menghampiriku, menyadarkan ku dari lamunan.
Saat dirimu
terhanyut dalam sedih yang kau rasakan
seperti mendung hitam
cobalah kau sadari
bahwa hidup ini terllau indah untuk ditangisi
dan bernyanyilah
senandungkan suara isi hati
bila kau terluka
dengarkan alunan lagu
yang mampu menyembuhkan lara hati
warnai hidupmu kembali
Benar kawan, hidup ini terlalu indah untuk disesali. Kita harus bagkit dari ketrpurukan dan tak berhenti menyerah. Bukankah hei... Tuhan takkan merubah nasib kaum sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya. Dengan doa dan usaha tentunya.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggerakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar